~:Catatan Belajar MazHel:~

Bertadabbur Dan Berinteraksi Dengan Al-Qur’an

Posted in Islamic Discussion by m42h31 on 3 Agustus 2008

Mentadabburkan  Al-Quran merupakan kewajiban dan berinteraksi dengannya merupakan dharuri -keharusan –, sedangkan hidup di bawah naungannya merupakan keni’matan yang tidak dapat dimiliki kecuali orang yang dapat merasakannya, keni’matan yang memberikan keberkahan hidup, mengangkat dan mensucikannya. Hal ini tidak akan dirasakan kecuali bagi siapa  yang benar-benar hidup dibawah naungannya, merasakan berbagai keni’matan yang bisa dirasakan, mengambil dari pengaruh-pengaruhnya dari hal-hal  yang dapat diraih, mendapatkan darinya kelembutan, kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kenyamanan dan kelapangan. [1]

Disini kami ingin memberikan kepada pembaca yang budiman ungkapan-ungkapan yang baik dan bermutu tentang pengalaman nyata yang dilakukan oleh seorang pemikir muslim kontemporer Asy-Syahid Sayyid Qutb yang terekam dalam kitabnya Fi Dzilali Al-Quran, kami akan meringkas ungkapan-ungkapan tersebut sesuai dengan kebutuhan zaman dan dapat memberikan penerangan bagi para pembaca jalan yang benar dalam rangka mentadabburkan Al-Quran dan memahaminya, menelaah teori yang benar dalam berinteraksi dengan Al-Quran, beraktivitas dan hidup di bawah naungannya.

Teori ini harus diketahui oleh kaum muslimin, agar mereka dapat memahami kunci pergerakan dalam membuka rahasia-rahasia pergerakan Al-Quran yang sangat berharga. Kami menyerukan seperti yang telah diserukan oleh guru kita Ustadz Sayyid Qutb, dengan teori yang baru dalam memahami, mentadabburkan dan menafsirkan Al-Quran, yaitu teori Tafsir al-haraki “Tafsir Pergerakan” yang oleh Ustadz Sayyid Qutb dianggap sebagai puncak dan pemberi penjelasan akan dasar-dasarnya, peletak madrasah “tafsir pergerakan” yang menjadikan Al-Quran hidup dengan nyata dan memberi pengaruh positif bagi kaum muslimin kontemporer. Yang mana Allah telah menganugrahkan kepadanya kunci yang fundamental “kunci pergerakan” yang dapat membuka rahasia-rahasia Al-Quran, yang ingin dihadirkan dalam kitabnya Fi Dzilal Al-Quran. [2]

Sesungguhnya masalah ini –dalam memahami petunjuk-petunjuk Al-Quran dan sentuhan-sentuhannya- bukanlah terletak dalam memahami lafazh-lafazh dan kalimat-kalimatnya, dan bukan pada tafsir Al-Qur’an – sebgaimana yang kita sangka !- . Namun masalahnya adalah kesiapan jiwa dengan menghadirkan perasaan, indra dan pengalaman : persis seperti kesiapan perasaan, indra dan pengalaman saat diturunkannya Al-Quran, yang selalui menyertai kehidupan jamaah muslimah yang bergelut dalam peperangan, bergelut dalam jihad; jihadun nafs –jihad melawan hawa nafsu-, dan jihadun nas –jihad melawan manusia-; jihad melawan nafsu angkara dan jihad melawan musuh; Dengan melakukan usaha dan pengorbanan, takut dan harap, kuat dan lemah, jatuh dan bangkit; Dalam lingkungan kota Mekkah yang keras dan saat da’wah berkembang; dalam kondisi minoritas dan lemah serta asing di tengah-tengah umat yang kafir; di tengah lingkungan yang terkucil dan terkepung, lapar dan sakit, tertekan dan terusir, dan terembargo –terputus- dari berbagai sarana kecuali hanya mengharap dari Allah. Atau di tengah dan lingkungan Madinah : lingkungan pergerakan pertama bagi masyarakat muslim yang berada dan menghadapi antara tipu daya, kemunafikan, penuh kedisiplinan dan kebebasan menunaikan perintah Allah; suasana perang Badar, perang Uhud dan perang Khondaq serta perjanjian Hudaibiyah. Pada suasana “Al-Fath” (kemenanagan), saat perang Hunain, perang Tabuk. Pada saat pertumbuhan umat Islam yang pesat, perkembangan sistem kemasyarakatan yang cepat dan persatuan yang hidup antara perasaan, kemaslahatan dan prinsip dalam memuliakan pergerakan dan dalam naungan sistem.

Dalam suasana seperti itu semua ayat-ayat Al-Quran diturunkan, sehingga memberi kehidupan yang baik dan faktual; melalui kalimat-kalimat yang penuh hikmah, ungkapan-ungkapan yang penuh pelajaran,petunjuk-petunjuk yang penuh berkah serta sentuhan-sentuhannya yang penuh dengan kelembutan.

Dalam suasana seperti itu dan dalam menyertai awal pergerakan pelaksanaan kehidupan Islam yang baru; Al-Quran diturunkan dengan membawa kandungan ayat yang membukakan hati yang tertutup dan melembutkan jiwa yang keras, dan memberi petunjuk pribadi yang sesat; memberikan rahasia-rahasianya, menebarkan keharuman, dan membimbing kepada petunjuk dan cahaya” [3]

Dari paargraf diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pokok utama yang harus kita jadikan pegangan dalam menafisrkan Al-Quran dan mentadabburkannya adalah sebagai berikut :

1. Membekali diri dengan persiapan perasaan, pengetahuan –indra- dan pengalaman dalam memahami nash-nash Al-Quran dan merasakan sentuhan-sentuhannya.

2. Mempokuskan diri –dengan instink, perasaan dan indranya- pada suasana dan lingkungan saat diturunkannya Al-Quran, baik lingkungan di Mekkah atau di Madinah, agar dapat menemukan jejak rahasia dan pengaruh Al-Quran dalam memberikan petunjuk kepada generasi salaf.

3. Memperhatikan sikap para sahabat –lingkungan Mekkah dan Madinah- dengan memahami dan berinteraksi dengan Al-Quran serta kehidupan mereka bersama Al-Quran.

4. Menenliti beberapa tujuan utama Al-Quran, metode aktual pergerakan yang di celupkan terhadap kehidupan umat Islam, serta diturunkannya Al-Quran secara realita; dengan sungguh-sungguh, sadar dan giat.

5. Mengamalkannya dan menerapkannya dalam kehidupan da’wah dalam jihad; seperti halnya yang diterapkan oleh para sahabat –khususnya pada periode “Mekkah”- dan pergerakan teoritis jihad bersama Al-Quran, mensibukkan diri, perasaan dan angoota tubuh lainnya dengan Al-Qur’an, dan memahami kondisi jiwa yang berat saat dan siksaan diterima saat menerapkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

6. Menerima Al-Quran dengan sepenuh hati, sehingga didapati darinya jawaban yang nyata dan obat penyembuh dari segala permasalahan yang dihadapi dan penyakit yang diderita; baik jiwa, ruh dan jasad serta akal fikiran.

Jika kita pindahkan perhatian kita kepada “Fi Dzilal Al-Quran” untuk membahas ungkapan-ungkapan yang menjelaskan teori pergerakan dalam mentadabburkan dan menafsirkan Al-Quran. Maka akan kita dapatkan banyak sekali hal-hal yang terkait dengan kenikmatan hidup bersama Al-Qur’an.

Ustadz Sayyid Qutb menyeru kepada kita untuk hidup di bawah naungan Al-Quran –sebagaimana ia hidup di dalamnya- untuk menemukan rahasia, tabiat dan kunci-kuncinya.

Hidup di bawah naungan Al-Quran, bukan berari mempelajari Al-Quran dan membacanya serta menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.  Namun yang dimaksud disini adalah hidup di bawah naungna Al-Quran: Manusia berada di bawah naungannya; dalam berbagai suasana dan kondisi; dalam bergerak, saat lelah, saat bertarung, dan saat sedih serta saat bergembira dan senang. Seperti yang terjadi pada masa awal turunnya Al-Quran..!! ;Hidup dengannya dalam menghadapi kejahiliaan yang menggejala dipermukaan bumi saat ini; dalam hatinya, niatnya dan geraknya; terpatri dalam jiwanya yang selalu bergelora akan ruh Islam; dalam jiwa umat manusia dan dalam kehidupannya dan kehidupan seluruh manusia juga.

Hidup yang berhadapan dengan kejahiliaan; dengan berbagai penomena-fenomenanya, tindak-tanduknya dan adat istiadatnya; dengan seluruh geraknya dan tekanan yang dilancarkannya, bahkan -jika perlu- perang dengannya sebagai usaha untuk mempertahankan aqidah rabbaniyah, sistem rabbani, segala methode dan gerak yang bermanhaj robbani.

Inilah lingkungan Al-Quran yang mungkin manusia bisa hidup di dalamnya, merasakan kenikmatan hidup di dalamnya, karena dengan lingkungan demikianlah Al-Quran turun, sebagaimana dalam lingkungan begitu pula Al-Quran diamalkan. Bagi siapa yang tidak mau menjalani kehidupan seperti itu, maka dirinya akan jauh dan terkucil dari hidayah Al-Quran, walaupun mereka tenggelam dalam mempelajarinya, membacanya dan menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.

Usaha yang mesti kita kobarkan untuk membangun jembatan antara orang-orang yang mukhlis dan Al-Quran bukanlah tujuan kecuali setelah melintasi jembatan tersebut hingga sampai pada satu tempat lain dan berusaha menghidupkan lingkungan Al-Quran secara baik; dengan amal dan pergerakan. Hingga pada saatnya nanti mereka akan merasakan keberadaan Al-Quran; menikmati kenikmatan yang telah Allah anugrahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. [4]

Dan menunjukkan kepada kita cara yang terbaik dalam membaca, mentadabburkan, dan mendapatkan rahasia-rahasia dan kandungan Al-Quran, beliau berkata : “Sesungguhnya Al-Quran harus dibaca, para generasi umat islam hendaknya menelaahnya dengan penuh kesadaran. Harus ditadabburi bahwasannya Al-Quran memiliki arahan-arahan yang hidup, selalu diturunkan hingga hari ini guna memberikan solusi pada masalah yang terjadi saat ini dan menyinari jalan menuju masa depan yang gemilang. Bukan hanya sekedar ayat dibaca dengan merdu dan indah, atau sekedar dokumentasi akan hakekat peristiwa yang terjadi pada masa lampau.

Kita tidak akan bisa mengambil manfaat dari Al-Quran ini sampai kita mendapatkan darinya arahan-arahan tentang kehidupan realita kita pada saat ini dan mendatang, sebagaimana yang telah didapati oleh para generasi islam pertama, saat mereka mengambil dan mengamalkan arahan-arahan dan petunjuk-petunjuk Al-Quran dalam kehidupan mereka. Saat kita membaca Al-Quran dengan penuh penghayatan, maka kita akan dapati apa yang kita inginkan; Kita akan dapati keajaiban yang tidak terbetik dalam jiwa kita yang pelupa ! kita juga akan dapati kalimat-kalimatnya yang teratur, ungkapan-ungkapannya yang indah, dan petunjuk-petunjuknya yang hidup, mengalir dan bergerak serta mengarahkan menuju petunjuk jalan yang lurus” [5]

Disebutkan –dalam pembukaan surat Ali Imron sebagai surat peperangan dan pergerakan- tentang kenikmatan hidup dengan Al-Quran dan syarat-syarat untuk mencapai dan meraihnya. Akan tampak disana kerugian yang mendalam antara kita dan Al-Quran jika kita tidak berusaha mengamalkannya secara baik, menghadirkan dalam persepsi kita bahwa Al-Quran ini diberikan kepada umat yang giat dan punya kesemangatan hidup, memiliki eksistensi diri dengan baik, dan menghadapi berbagai peristiwa-peristiwa yang menimpa dalam kehidupn umat ini.

Akan tampak disana dinding pemisah yang sangat tinggi antara jiwa kita dan Al-Quran, selama kita membacanya atau mendengarnya seakan ia hanya sekedar bacaan ibadah saja dan tidak memiliki hubungan denga realita kehidupan manusia saat ini.

Mukjizat Al-Quran yang mengagumkan meliputi, saat dia diturunkan guna menghadapi realita tertentu dan umat tertentu, pada masa dari masa-masa sejarah yang tertentu, khususnya umat ini yang berada dalam menghadapi perang  yang sangat besar yang berusaha mengubah sejarah ini dan sejarah umat manusia seluruhnya. Namun –besamaan dengan ini- Al-Quran diperlakukan, dihadirkan dan dimiliki hanya untuk menghadapi kehidupan modern saja, seakan-akan dia diturunkan pada saat menanggulangi jamaah Islam pada permasalahan yang sedang berlangsung, dalam peperangan yang terjadi dengan jahiliyah disekitarnya.

Agar kita dapat meraih kekuatan yang dimiliki Al-Quran, mendapatkan hakekat yang terdapat di dalamnya dari kehidupan yang menyeluruh, meraih petunjuk yang tersimpan untuk jamaah muslimah pada setiap generasi. Maka selayaknya kita harus menghadirkan persepsi kita seperti generasi Islam pertama saat diturunkan kepada mereka Al-Quran pertama kali sehingga mereka bergerak dalam realita kehidupan mereka secara nyata.

Dengan teori ini kita akan dapat melihat kehidupan yang bergerak di tengah kehidupan generasi Islam pertama, dan begitupun dengan kehidupan kita saat ini; kita  merasakan bahwa Al-Qur’an akan selalu bersama kita saat ini dan nanti –masa mendatang-, dan Al-Qur’an bukan hanya sekedar bacaan saja yang jauh dari kehidupan nyata yang terbatas. [6]

“Bahwa nash-nash Al-Quran tidak akan dapat difahami dengan baik hanya melalui pemahaman dari petunjuk-petunjuk secara bayan dan bahasa saja, namun yang pertama kali -dan sebelum yang lainnya- yang harus dilakukan adalah dengan merasakan kehidupan dalam suasana sejarah pergerakan dan dalam realita positif, dan menghubungkannya dengan realita kehidupan nyata. Karena Al-Qur’an tidak akan terbuka rahasianya hanya melalui pandangan yang jauh ini kecuali dalam wujud persesuaian realita sejarah, sehingga akan tampak sentuhan-sentuhannya yang kontinyu, objektivitasnya yang terus menerus. Namun bagi siapa yang bergerak dengan ajarannya saja,  yaitu mereka yang hanya membahas nash-nash Al-Quran dari segi bahasa dan bayan saja, maka hanya akan mendapat luarnya saja, sementara bagian dalamnya jauh dari hatinya. [7]

Sesungguhnya Al-Quran memiliki tabiat pergerakan dan misi yang nyata, hidup dan bergerak, dari sini berarti Al-Quran  tidak akan bisa dirasakan dan dinikmati dengan baik kecuali bagi siapa yang bergerak secara benar dan pasti dalam realita kehidupannya. Beliau berkata : “sesungguhnya Al-Qur’an tidak bisa dirasakan kecuali yang turun dan bergelut dalam kancah peperangan ini, bergerak seperti yang terjadi sebelumnya saat pertama kali diturunkan Al-Quran. Sedangkan mereka Mempelajari Al-Quran dari segi bayan atau sekedar seninya saja, maka tidak akan dapat memiliki hakekat kebenaran sedikitpun darinya hanya sekedar duduk-duduk, berdiam diri dan merasa tenang, namun jauh dari kancah pertempuran dan jauh dari pergerakan.

Bahwa hakekat Al-Quran ini, selamanya tidak akan dapat direngkuh oleh orang-orang yang malas; dan bahwa rahasia yang terkandung didalamnya tidak akan muncul bagi siapa yang terpengaruh dengan ketentraman dan ketenangan beribadah kepada selain Allah, bergaul untuk thogut-thogut musuh Allah dan umat Islam. [8]

Bahwa pengertian diatas dikuatkan dengan pernyataan lainnya : “Demikianlah Al-Quran akan terus bergerak pada hari ini dan esok –masa mendatang- dalam memunculkan kebangkitan Islam, menggerakannya dalam jalan da’wah yang terprogram”.

Gerakan ini tentunya butuh kepada Al-Quran  yang memberikan ilham dan wahyu. Ilham dalam manhaj haraki, konsep dan langkah-langkahnya, sedangkan wahyu mengarahkan konsep dan langkah tersebut jika dibutuhkan, dan memberi kekuatan batin terhadap apa yang akan dihadapi di penghujung jalan.

Al-Quran –dalam persepsi ini- tidak hanya sekedar ayat-ayat yang dibaca untuk meminta berkah, namun didalamnya berlimpahan kehidupan yang selalu turun atas jamaah muslimah yang bergerak bersamanya, mengikuti arahan-arahannya, dan mengharap ganjaran dan janji Allah SWT.

Inilah yang kami maksud bahwa Al-Quran tidak akan terbuka rahasia-rahasianya kecuali bagi golongan muslim yang berinteraksi dengannya untuk merealisasikan petunjuk-petunjuknya di alam realita, bukan bagi mereka yang hanya sekedar membacanya untuk meminta berkah ! bukan bagi mereka yang membacanya hanya untuk belajar seni dan keilmuan, dan juga bukan bagi mereka yang hanya mempelajari dan membahas dalam bidang bayan saja !

Mereka semua sama sekali tidak akan mendapatkan dari Al-Quran sesuatu apapun, karena Al-Quran tidak diturunkan bukan untuk sekedar dipelajari dan dijadikan mata pelajaran namun sebagai pelajaran pergerakan dan taujih –pemberi petunjuk dan arahan-.” [9]

Karena itu, bersegeralah memperbaiki pemahaman Al-Quran dan mentadabburkannya, berinteraksi dengannya seputar teori pergerakan, menggunakan kunci-kunci yang memberi petunjuk dalam berinteraksi dan mentadabburkan Al-Qur’an. Karena yang demikian sesuai dengan tabiat dasar Al-Quran yang mulia dan karakteristiknya yang unik. Dan ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah “Realita pergerakan” sebagai kunci dalam berinteraksi dengan Al-Kitab yang mengagumkan dan mukjizat yang indah dan memberi petunjuk.

”Karena itu gerakan Islam akan selalu berhadapan –yang menjadi kebutuhan dan tuntutan- setiap kali berulang masa ini (masa penghalangan da’wah Islam di Mekkah antara tahun kesedihan dan Hijrah), seperti yang dihadapi gerakan Islam sekarang di era modern ini.

Dan yang demikian harus disertai dengan keadaan, situasi, kondisi, kebutuhan, dan tuntuan realita amaliyah seperti saat diturunkannya Al-Quran pertama kali. Dan hal tersebut guna mengetahui arah tujuan nash dan aspek-aspek petunjuk-petunjuknya, meneropong sentuhan-sentuhannya yang selalu bergerak di tengah kehidupan yang selalu berhadapan dengan realita sebagaimana makhluk hidup yang bergerak –berinteraksi dengannya atau berseberangan dengannya. Pandangan ini merupakan perkara yang sangat urgen guna memahami hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Quran dan merasakan kenikmatan bersamanya. Sebagaimana ia juga sangat penting untuk dapat memanfaatkan petunjuk-petunjuknya setiap kali berulang suasana dan situasi di masa sejarah yang akan datang, khususnya zaman yang sedang kita hadapi saat ini, saat kita bergelut dalam pergerakan da’wah islam.

Bahwa tidak akan ditemukan pandangan ini kecuali mereka yang bergerak secara pasti dengan agama ini dalam menghadapi dan memberantas kejahilian modern, karena umat akan menghadapi peristiwa, suasana dan situasi seperti yang di hadapi oleh generasi awal da’wah dan kaum kaum muslimin bersamanya. [10]

____________________________________

Maraji’

[1]. lihat: Muqaddimah Fi Zhilalil Quran dan Biodata Sayyid Qutb pada surat Al-A’raf.

[2]. Lihat: Al-Manhaj Al-Haraki Fi Az-Zhilal.

[3]. Lihat: Khasais At-Tashawur Al-Islami, Sayyid Qutb, hal. 7-8

[4]. Lihat: Fi Zhilalil Qur’an, jil. 2, hal. 1016-1017

[5]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 61

[6]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 348-349

[7]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil 3,  hal. 1453

[8]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1864

[9]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1948

[10]. Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 2121-2122

Source : http://www.al-ikhwan.net/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: