~:Catatan Belajar MazHel:~

Persahabatan Yang Sejati

Posted in Islamic Discussion by m42h31 on 1 Agustus 2008

Saat Rasulullah saw sakit beliau keluar menemui sahabatnya dan berpidato dihadapan mereka, diantara pidatonya adalah: “Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan pilihan kepada hamba-Nya antara dunia dan apa yang dimiliki disisi-Nya, maka Allah memilih hamba itu apa yang dimiliki”, maka saat itu Abu bakar terperanjat dan menangis sehingga Rasulullah pun ikut menangis, lalu beliau berkata : Kami akan membela engkau demi bapak-bapak kami dan ibu-ibu kami… maka orang-orang yang hadirpun menjadi kaget dari tangis dan perkataan Abu Bakar… karena mereka tidak mengetahui apa yang diketahui oleh seorang sahabat yang agung ini terhadap sabda Rasulullah saw, dan setelah Rasulluah saw wafat mereka baru menyadari bahwa yang dimaksud dari pilihan Allah adalah Rasulullah saw, karena itu Rasulullah mengalihkan pandangannya kepada Abu Bakar saat beliau bereaksi, lalu bersabda : “Sesungguhnya orang yang pertama kali beriman dengan hartanya dan erat persahabatannya adalah Abu Bakar, sekiranya saya boleh mengambil seseorang untuk dijadikan kekasih maka saya akan memilih Abu Bakar, namun dia adalah akhi (saudaraku) dan sahabatku”.

Abu Bakar Ash-shiddiq –semoga Allah meridloinya- selalu kita dapati dan temui dalam sirahnya bersama Rasulullah saw, sahabat yang setia, berjuang mempertahankan keyakinan dan agama yang diemban Rasulullah saw walau harta mengorbankan harta dan jiwanya, baik ucapan dan perbuatan, kecintaan yang begitu mendalam dan begitu bergemuruh dalam jiwanya.

Jika kita membaca sirah beliau saat berhijrah bersama Rasulullah saw, kadang beliau berjalan di depan Rasul, kadang berjalan di belakangnya, kadang di samping kanan dan kadang pula di samping kirinya… Saat ditanya tentang prilakunya yang aneh, Abu Bakar berkata kepada Rasulullah : jika saya lihat tidak ada yang ingin menghadangmu maka saya berada di belakangmu, namun jika saya lihat ada yang ingin menghadangmu, maka saya berada di hadapanmu, aku korbankan ibuku dan bapakku karena engkau wahai Rasulullah”.

Dan saat berada di Gua Hira beliau rela mengorbankan dirinya untuk melindungi Rasul; yaitu saat tangannya dipatok binatang berbisa, karena memasukkan tangannya ke dalam lubang batu yang gelap; khawatir ada binatang berbisa yang keluar dari lubang tersebut dan mencelakai Rasulullah saw.

Demikianlah seharusnya sifat seorang pemimpin, dan seorang pengikut setia. Seorang sahabat sejati; kecintaan yang saling memberikan andil, kasih sayang, pembelaan yang terus menerus, dan pengorbanan yang tanpa perhitungan. Namun yang terjadi saat ini seorang prajurit mengkafirkan pemimpinnya dan pemimpin juga sebaliknya, mereka saling mencaci dan berbantah-bantahan antara mereka dengan sebagian yang lainnya, dan ada sebagian mereka yang menumpahkan darah sebagian lainnya, serta ada juga yang berkeinginkan menjatuhkan pemimpinnya, sebagaimana ada yang berkeingnan menghancurkan dan memerangi pemimpinnya.

Ada pemimpin dalam ingin mempertahankan kekuasaannya dengan menggunakan senjata dan alat pemusnah massal, menggunakan terali besi dan kurungan, mengeluarkan biaya yang begitu banyak , hanya untuk menghancurkan seterunya walau harus mengorbankan rakyatnya, menjatuhkan martabat dan melanggar HAM. Hal ini terjadi karena tidak adanya kesepakatan dalam manhaj dan wawasan.

Sebagaimana juga kita dapat jumpai keakraban dan keharmonisan antara prajurit dan pemimpinnya saat Abu Bakar As-shiddiq bertanya kepadanya tentang tujuan perjalanan hijrah. Beliau bertanya sedang dia memahami akan besarnya tanggung jawab, karena yang demikian bukanlah persahabatan dalam bentuk umum namun dalam arti yang khusus dan baru; yang membutuhkan persiapan paripurna untuk berkorban dengan jiwa pada setiap saat, melakukan perjalanan yang berat  yaitu hijrah ke Madinah. Dan pengorbanan beliau tergambar saat memasuki gua Hira sebelum Rasulullah, guna mengecek dan melakukan investigasi adanya kemungkinan binatang yang dapat mencelakan diri Rasulullah saw dan kekhawatiran beliau dari incaran orang-orang kafir sehingga perlu berjalan di depannya dan kadang di belakangnya. Alangkah indahnya kejujuran yang agung. Maka dari itu hendaknya setiap kita bertanya pada diri kita masing-masing: Apakah diri kita memiliki kesiapan untuk berkorban demi agama yang mulia ini? Apakah kita sudah siap berkorban untuk tegaknya agama Islam jika datang kepada kita masanya untuk berkorban dengan jiwa, harta, waktu, dan keluarga?? Atau apakah kita akan barada kadang di kanan dan kadang di kiri, saat Islam berada dalam bahaya; musuh yang menghadang dari belakang, depan, kanan dan kiri???

Sesungguhnya Islam menuntut dari kaum muslimin lebih dari itu; Menuntut mereka untuk meninggalkan riba sebagai barang haram, namun mereka mengabaikan bahkan justru mereka memerangi Allah dan Rasul-Nya dan memakannya hingga menjadi kaya dan merasa tenang dengannnya.

Persahabatan yang pada saat ini sudah memudar dan tidak kita temui lagi dalam mengikuti sejarah dan sunnah nabi mereka, meninggalkan hukum-hukum Islam, mamakan harta yang diharamkan; karena Allah telah melapangkan jalan dalam mencari harta yang halal dan mempersempit jalan menuju yang haram. Persahabatan yang tidak kita temui lagi dalam pelanggaran yang dilakukan para pemimpin dunia Islam terhadap hukum dan batasan-batasan Allah, mancampakkan syariat Allah dan aturan-aturan-Nya dengan sesuatu yang tidak diturunkan oleh Allah, dan mengenyampingkan peran Islam dalam berbagai bidang; politik, ekonomi, pendidikan kecuali hanya urusan yang berkisar di masjid; seperti peringatan dan perayaan hijrah nabi, maulid nabi, dan peringatan Isra Mi’raj saja.

Jika berfikir dalam meninggalkan sebagian hukum Islam saja sudah mendapatkan peringatan dan ancaman keras dari Allah SWT terhadap Rasulullah saw seperti dalam firman-Nya :

وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah terhadapmu”. (Al-Maidah:49)

dan Firman-Nya :

وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا . إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akanmendapatkan penolongpun dari Kami.” (Al-Isra:74)

Maka apakah sesuai bagi siapa yang menanggalkan ajaran dan hukum Islam secara keseluruhan dan hanya menerapkan sebagian cabang-cabangnya saja?? Maka ganjarannya adalah firman Allah :

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain ? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, malainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. (Al-Baqoroh:85)

Sungguh pada saat ini kita membutuhkan persahabatan yang sejati dan ikhlas, seperti halnya persahabatan antara Abu Bakar dengan Rasulullah saw, agar kita dapat menegakkan islam dalam jiwa kita, lalu dapat memenangkan dan mengalahkan musuh-mush kita dengan Izin Allah dan mengembalikan Umat Islam pada kemuliaan dan kesuciannya.

source : http://www.al-ikhwan.net/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: